11 Juni 2014

[110614.ID.BIZ] Jepang Terancam Kehilangan Posisi Kreditur Terbesar di Dunia



Bisnis.com, TOKYO—Jepang berisiko kehilangan posisi sebagai kreditor terbesar di dunia akibat menyusutnya surplus fiskal.

Apalagi, melesatnya pertumbuhan utang pemerintah diprediksi mampu menggerogoti surplus fiskal yang ada.

Berdasarkan survei Bloomberg News, tingginya surplus fiskal yang mengerek naik total aset Jepang menjadi peringkat pertama sejak 1991, mulai bergerak sebaliknya. Bahkan, sejumlah ekonom meyakini Jepang akan mengalami defisit fiskal pada 2020.

Kementerian Keuangan Jepang menyebutkan aset bersih Negeri Sakura ini mencapai 325 triliun yen pada akhir 2013, dan China menempati peringkat kedua dengan total aset senilai 208 triliun yen.

Data yang sama juga mengungkapkan aset Jepang di luar negeri terakselerasi menjadi 797 triliun yen pada 2013, hampir dua kali lipat dari 2003 yaitu 386 triliun yen.

Pada saat yang sama, populasi menua mulai menggerogoti cadangan, Negeri Matahari Terbit itu juga harus tergantung pada kreditur asing untuk membiayai defisit fiskal dan memangkas utang yang terus merengkak naik.

Selain itu, fluktuasi defisit transaksi berjalan dapat memacu kenaikan imbal obligasi seiring dengan investor yang mulai merevisi prospek ekonomi Jepang.

Akibatnya, China berpotensi mengambil keuntungan dari kondisi Jepang, dan berpeluang untuk menjadi negara kreditur terbesar di dunia.

“Peluang China untuk menyalip Jepang sebagai negara kreditur terbesar di dunia pada awal 2020 cukup besar, jika dilihat dari pertumbuhan aset bersihnya di luar negeri,” kata Hidenori Suezawa, analis SMBC Nikko Securities Inc. di Tokyo, Selasa (10/6/2014).

Untuk itu, Suezawa berpendapat Jepang memiliki pekerjaan rumah untuk meniru langkah Amerika Serikat. Pasalnya, Negeri Paman Sam ini berhasil menarik modal asing untuk menutup defisit transaksi berjalannya.

Sumber : Bloomberg – Bisnis Indonesia, 10.06.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar