22 Juni 2014

[220614.ID.BIZ] Kapal Tenggelam Di Malaysia : 11 Jenazah WNI Dipulangkan


Bisnis.com, JAKARTA -- Musibah tenggelamnya kapal di wilayah barat Malaysia menyebabkan sejumlah WNI menjadi korban tewas.

Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur dan Pemerintah Provinsi Aceh pada Minggu (22/6/2014) memfasilitasi pemulangan 11 jenazah korban kapal tenggelam di perairan Malaysia pada 18 dan 19 Juni.

Sepuluh jenazah warga negara Indonesia tersebut berasal dari, demikian siaran pers yang diterima Antara pada Minggu dari Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Kesepuluh jenazah tersebut dipulangkan dengan menggunakan dua maskapai, yaitu delapan jenazah menggunakan Garuda Indonesia menuju Banda Aceh via Jakarta.

Dua jenazah lainnya dipulangkan dengan menggunakan Malaysia Airlines tujuan Medan dan kemudian dilanjutkan ke Aceh dengan perjalanan darat.

Sementara satu jenazah asal Sumatera Utara saat ini juga tengah dalam proses pemulangan.

Petugas dari KBRI Kuala Lumpur turut mendampingi pemulangan jenazah yang diterbangkan langsung dari Kuala Lumpur ke Banda Aceh.

Adapun pengaturan untuk penerimaan dan pengantaran kesepuluh jenazah kepada pihak keluarga masing-masing dikoordinasikan oleh pejabat Pemda Aceh.

Pihak Pemda Aceh berada di Malaysia sejak tanggal 19 Juni 2014 dengan pihak-pihak terkait di tanah air, termasuk pihak keluarga, kata siaran pers tersebut.

Tim SAR Malaysia masih terus melakukan pencarian korban tenggelamnya dua kapal pada tanggal 18 Juni 2014.

Saat ini telah ditemukan 14 jenazah korban yang terdiri atas 11 lelaki dan tiga perempuan.

Sebanyak 11 jenazah telah berhasil diidentifikasi yakni 10 laki-laki dan 1 perempuan. Sementara tiga jenazah belum dapat dikembalikan kepada keluarga karena belum dapat diidentifikasi.

KBRI Kuala Lumpur akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait di Malaysia untuk melakukan pencarian atas korban tenggelam lainnya.

Dubes Indonesia untuk Malaysia, Herman Prayitno, mengimbau seluruh warga negara Indonesia di Malaysia agar tidak menempuh jalur kepulangan yang berbahaya untuk kembali ke Indonesia.

Sumber : Bisnis Indonesia, 22.06.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar