15 Maret 2016

[150316.ID.BIZ] Pembangunan Pelabuhan Cilamaya Tekan Biaya Produksi


Jakarta - Chairman Lippo Group Mochtar Riady menyatakan satu kebijakan berupa pembangunan pelabuhan di Cilamaya jauh lebih baik ketimbang 11 paket kebijakan yang telah diluncurkan pemerintah. Selain menekan cost of production, daya saing produk Indonesia juga bisa meningkat dengan kehadiran pelabuhan tersebut.

“Pemerintah bikin deregulasi sudah 11 macam sesungguhnya, cukup ambil satu tindakan saja dan semua akan beres, yaitu membangun pelabuhan di Cimalaya," katanya pada acara "Lippo Group Senior Executive Gathering" di UPH Karawaci, Tangerang, Banten, Senin (14/3).

Dikatakan, delapan dari 11 komponen biaya produksi diatur oleh pemerintah, sehingga kebiijakan pemerintah yang tepat akan mengurangi biaya produksi secara signifikan. Ia mencontohkan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia di Cikarang yang memproduksi lebih kurang 1 juta mobil dan 10 juta motor per tahun. 

Namun, mereka harus mengambil bahan baku pelat besi dari Cilegon yang jaraknya 200 kilometer. Hal itu otomatis menambah biaya produksi. Mereka juga harus mengimpor spare part lantaran Pelabuhan Tanjung Priok masih terlalu kecil dan harus menambah biaya pengangkutan laut.

“Ini bikin oknum aparat pelabuhan cari kesempatan mencari uang. Begitu barang dibongkar, Bea Cukai mempersulit dan biaya gudang jadi lebih mahal. Masalah dengan Bea Cukai selesai, ada lagi masalah pengangkutan ke luar pelabuhan yang dimonopoli oleh geng. Pernah ada kereta api yang masuk ke pelabuhan, tetapi disetop. Ini semua bikin cost lebih mahal,” katanya.

Dengan penyediaan bahan baku yang sulit, lanjut Mochtar, pelaku industri terpaksa menyediakan bahan baku minimal sebulan, sementara di negara lain hanya tujuh hari. Bila ditambah biaya bunga dengan tingkat suku bunga yang juga lebih mahal, serta masalah air, listrik, dan bongkar-muat di kawasan industri yang juga dimonopoli geng yang berkonspirasi dengan alat-alat pemerintah, maka biaya produksi semakin mahal.

“Di sini bisa kita lihat delapan biaya produksi ada di tangan pemerintah. Yang bikin barang kita enggak kompetitif bukan karena SDM atau barang kita less dari Thailand atau Vietnam, namun ini adalah masalah pemerintah. Kalau ada pelabuhan di Cimalaya, paling ambil bahan baku berjarak 30 km selesai. 

Berarti biaya transportasi tinggal 10 persen dan biaya shipping 9 persen. Mobil di sana diekspor ke luar, juga jadi lebih murah. Berarti produk kita langsung bisa lebih kompetitif,” tutup Mochtar.

Sumber : BeritaSatu, 14.03.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar