16 Maret 2016

[160316.ID.BIZ] Indonesia, Filipina, Vietnam Punya Prospek Pertumbuhan Terbaik di ASEAN


Jakarta- Dengan keadaan global saat ini, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menurunkan suku bunga dengan tujuan untuk meningkatkan konsumsi domestik. Menurut laporan ICAEW Economic Insight South East Asia, pemotongan suku bunga ini diikuti dengan 8% kenaikan pembiayaan infrastruktur yang telah dianggarkan pada tahun 2016 dan diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ini akan terjadi walaupun terdapat kehilangan momentum di pasar tenaga kerja dan perlambatan pada harga komoditas yang turut berkontribusi menurunkan pendapatan.

Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan PDB dari 4.8% pada tahun 2015 sampai 5.1% di tahun 2016. Negara ini diperkirakan akan mengalami kenaikan PDB hingga 5.5% pada tahun 2017. Di sisi lain, ASEAN akan mengalami kenaikan PDB yang sedang dengan pengecualian Malaysia yang akan mengalami penurunan PDB sebesar 4.2% pada tahun 2016. Vietnam dan Filipina akan mengalami kenaikan PDB sebesar 6.3% dan 6.1% tahun ini dan Singapura juga akan mengalami tingkat tren PDB hingga 3.3% pada tahun 2018.

“ASEAN dan ekonomi global akan terus berjuang di tengah-tengah kondisi ekonomi dunia saat ini. Sehingga, patut untuk dipertanyakan bagaimana besarnya peranan Tiongkok dan perkembangan komoditas siklus-super yang dapat disalahartikan menjadi pertumbuhan struktural di beberapa negara,” kata Tom Rogers, ICAEW Economic Advisor and Associate Director, Oxford Economics dalam siaran persnya, Selasa (15/3).

Kinerja ekonomi terbaik di enam negara ASEAN, menurutnya adalah negara dimana pertumbuhannya ditentukan oleh kekuatan domestik serta adanya ruang untuk dukungan kebijakan dari pemerintah. "Kami percaya bahwa Indonesia, Filipina dan Vietnam mempunyai prospek pertumbuhan yang terbaik diantara enam negara ASEAN yang dicerminkan melalui faktor-faktor di sektor domestik seperti rendahnya nilai hutang, stabilitas ekonomi makro serta tingkat gaji. Faktor-faktor ini akan membantu ketiga negara tersebut untuk meningkatkan pangsa pasar mereka di industri berbiaya rendah," jelasnya.

Sementara itu, efek dari lambannya pertumbuhan di Tiongkok akan berdampak secara berbeda di negara-negara ASEAN. Tiongkok merupakan mitra perdagangan terbesar bagi Malaysia, Singapura dan Thailand. Terutama, Singapura dan Thailand dapat menjadi rentan terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok karena posisi mereka sebagai rantai pasokan di wilayah regional untuk barang-barang elektronik. Menurunnya permintaan dan harga untuk komoditas juga akan menjadi salah satu kekhawatiran yang menjadi dampak dari ekonomi Tiongkok.

Indonesia, Filipina dan Vietnam mempunyai paparan resiko yang lebih rendah pada sektor manufaktur yang mana Tiongkok mempunyai kapasitas yang sangat besar. Tingkat gaji di ketiga negara juga ini berarti bahwa perlambatan ekonomi di Tiongkok tidak berpengaruh terhadap perkembangan industrialisasi di ketiga negara tersebut.

Sumber : BeritaSatu, 15.03.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar