04 Mei 2016

[040516.ID.BIZ] Bank Dunia: Kekeringan Bisa Pangkas 1% Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Dunia menyatakan dampak kebijakan manajemen air terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2050 bisa mencapai 1%.

Laporan Bank Dunia bertajuk High and Dry: Climate Change, Water, and the Economy menyatakan persediaan air bersih merupakan dampak terbesar perubahan iklim terhadap aktivitas ekonomi dunia.

Persediaan air bersih memiliki dampak atas persediaan makanan, energi, kondisi masyarakat perkotaan dan ekosistem lingkungan. Ketersediaan air bersih di perkotaan bisa merosot hingga 67% pada 2050 dibandingkan pada 2015 karena terserap oleh kebutuhan agribisnis dan energi.

Penurunan persediaan air bersih akan mendongkrak harga pangan yang berpotensi memicu konflik laten dan memicu migrasi penduduk besar-besaran.

“Kekeringan adalah ancaman besar bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas dunia. Perubahan iklim membuat masalah ini semakin buruk. Jika negara-negara tidak mengambil tindakan untuk memperbaiki manajemen sumber daya aiar, beberapa negara bisa mengalami pertumbuhan ekonomi negatif,” kata Jim Yong King, Presiden Bank Dunia terkait laporan tersebut seperti dikutip, Rabu (4/5/2016).

Bank Dunia menyatakan beberapa wilayah di dunia bisa kehilangan pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada 2050 jika tidak menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih efisien.

Di sisi lain, kebijakan yang berhasil mengarahkan 25% dari persediaan air untuk sektor bernilai tambah tinggi bisa mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada periode yang sama.

Alokasi air bersih yang lebih cerdas bisa menambah 1% terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pada 2015. Namun, pertumbuhan ekonomi bisa merosot 1% jika tidak ada perubahan pada kebijakan manajemen air di Tanah Air.

Daerah yang bisa menikmati dampak pertumbuhan ekonomi paling besar dari manajemen air adalah Asia Tengah. Pertumbuhan PDB di negara-negara pecahan Uni Soviet tersebut bisa bertambah 6% jika memperbaiki sistem manajemen air.

Adapun daerah yang paling berisiko kehilangan pertumbuhan akibat kesalahan manajemen air adalah Timur Tengah dan Afrika Utara. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara arab bisa terpangkas 6% tanpa reformasi manajemen air.

Sumber : Bisnis Indonesia, 04.05.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar