08 Maret 2015

[080315.ID.AIR] Biaya Pencarian Malaysia Airlines MH370 Membengkak

SYDNEY—Setahun berlalu sejak pesawat Malaysia Airlines MH370 menghilang, dan sejumlah negara mulai menimbang ongkos pencarian sang burung besi menyusul meredupnya harapan dan menumpuknya pengeluaran.

Australia, Malaysia, dan China menghadapi dilema: jejak fisik pesawat belum ditemukan, tapi keluarga 239 penumpang dan kru menuntut jawaban. Mengakhiri atau mengurangi upaya pencarian menjadi tanda bahwa para pejabat berwenang telah menyerah.

MH370 bertolak dari Kuala Lumpur, Malaysia, selepas tengah malam pada 8 Maret 2014 menuju Beijing, China. Setengah jam dalam perjalanan, Boeing 777 itu menikung tajam dan menghilang dari radar. Selama beberapa jam pesawat tersebut mengirimkan data satelit yang terarah ke sebelah barat daya Australia.

Setahun kemudian, banyak petunjuk utama keberadaan pesawat berangsur terhapus, ujar Martin Dolan, kepala Biro Keselamatan Transportasi Australia. Hingga saat ini, biaya yang ditanggung Australia dan Malaysia telah mencapai USD94 juta.

Pihak keluarga dan beberapa anggota parlemen Australia mengecam kinerja Fugro NV, perusahaan minyak dan gas Belanda, yang memenangkan kontrak pencarian pada Agustus.

Australia meminta Malaysia dan Cina untuk membicarakan kemungkinan berikutnya “jika tak menemukan apapun” pada Mei, ujar Wakil Perdana Menteri Australia, Warren Truss.

Seorang sumber mengatakan pemerintah Malaysia masih akan berupaya melakukan pencarian, bahkan jika Australia mengendurkan usaha demi menyelamatkan wajahnya di hadapan masyarakat internasional. Namun, kemampuan Malaysia untuk melakukan misi pencarian yang mumpuni kemungkinan ada batasnya.

Belum jelas apakah China, yang memiliki korban penumpang terbanyak, akan menambah kapasitas pencarian. Zha Daojiong, seorang guru besar Peking University, ragu pemerintah China akan menyumbang dana.

Banyak pihak yang ditinggalkan oleh korban menyangsikan penelusuran resmi pihak berwenang. Bulan lalu, sekelompok anggota keluarga dari China terbang ke Malaysia demi menuntut aksi lebih dari pemerintah Malaysia. Mereka pun menagih pemerintah Malaysia untuk mencabut pernyataan bahwa seluruh awak dan penumpang pesawat telah tewas.

Sedari awal, upaya pencarian banyak bersandar pada Australia. Namun, kini, seiring melemahnya posisi politik Perdana Menteri Tony Abbott, kondisi itu sepertinya takkan berlangsung lama. “Saya tak dapat menjanjikan intensitas pencarian seperti sekarang terus berlangsung. Namun, kami akan terus mengupayakan yang terbaik untuk memecahkan misteri ini,” ujar Abbott di hadapan parlemen.

Pada Oktober, pemerintah Australia meminta negara-negara yang berada di lingkar Samudera India terlibat lebih jauh dalam pencarian.

Jika pencarian tidak menemui hasil pada Mei, ada kemungkinan jejaring pendanaan akan diperluas. Pasalnya, pada 2009, setelah tercipta kegagalan dalam upaya awal pencarian Air France Flight 447, yang saat itu jatuh di Samudera Atlantik, tercetus penambahan jejaring pendanaan.

Namun, masalahnya, kondisi dengan 447 dengan MH370 berbeda. Saat itu, tim penyelidik menemukan puing Air France tak lama setelah pesawat itu raib, sehingga mereka mengetahui lokasi pencarian. (Oleh Daniel Stacey)

Sumber : The Wall Street Journal, 08.03.15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar